Rabu, 25 Maret 2020

Tak Perlu Panik, Begini Pola Penanganan Pemerintah Tangani Corona Covid-19

Pemerintah sedang melakukan skrining kesehatan dengan metode rapid test atau tes cepat untuk mendeteksi penyebaran virus corona atau coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Masyarakat yang dinyatakan positif terjangkit virus corona Covid-19 akan mendapatkan penanganan sesuai tingkat keparahannya.


Demikian yang disampaikan Juru bicara pemerintah untuk penanggulangan Virus Corona atau Covid-19, Achmad Yurianto saat konferensi Pers di Gedung BNPB, Rabu (25/3/2020).

"Tidak semua orang sakit berbondong-bodong menuju rumah sakit dan tidak semua kasus isolasi harus di Rumah sakit," kata dia.

Pria yang akrab disapa Yuri ini menjelaskan, rapid test yang dilakukan pemerintah tidak diarahkan untuk menegakkan diagnosa. Sehingga ketika hasil rapid test menunjukkan positif corona Covid-19, yang bersangkutan akan dikarantina selama tujuh hari sambil menunggu tes lanjutan.

"Setelah 7 hari, kita tes lagi. Manakala ditemukan positif ini adalah tuntutan bagi kita untuk melakukan pemeriksaan antigen dengan metode Real Time PCR. Ini yang kemudian dipakai dasar dalam rangka menegakkan diagnosa," papar dia.

3 Kategori Pasien Covid-19


Yuri menyebut, terdapat tiga jenis pola karantina yang diatur oleh pemerintah. Pertama, pasien positif Covid-19 yang tidak merasakan keluhan diminta melakukan karantina di rumah. Tentunya selama 14 hari kesehatan terus dimonitor. Pihaknya bakal menyampaikan hal ini kepada Dinas Kesehatan di wilayah.

"Bahwa dia harus menggunakan masker terus-menerus selama 14 hari, menjaga jarak semua anggota di rumah, kemudian makan dan minum menggunakan alat sendiri yang tidak berganti-ganti dengan anggota keluarga lain," ujar dia.

"Rajin cuci tangan menggunakan sabun, menjaga kesehatan diri dengan pola hidup bersih dan sehat, asupan gizi cukup, banyak makan vitamin, istirahat, dan aktivitas yang cukup," sambung dia.

Yuri berharap, dengan cara seperti itu, pasien akan cepat pulih. "Kita harapkan lebih baik lagi dan sembuh total," ucap dia.

Sementara itu, pasien positif dengan gejala panas, batuk, sesak nafas atau penyakit penyerta (komorbid). Misalnya penderita hipertensi diabetes, kelainan jantung, gagal ginjal kronis, maka pasien itu harus diisolasi di rumah sakit.

"Pemerintah telah menyiapkan rumah sakit isolasi tambahan yang cukup besar. Kita tahu bersama beberapa hotel, wisma atlet digunakan untuk kepentingan ini. Inilah yang kemudian akan kita pakai untuk melakukan isolasi di rumah sakit dengan kasus-kasus yang sedang," papar dia.

Yuri menjelaskan, ketiga yaitu pasien yang dikategorikan tergolong berat dengan penyulit. Pasien inilah yang dirujuk ke rumah sakit rujukan.

"Di RS rujukan akan lebih intensifkan perawatannya," ucap dia.

Yuri mengatakan, pola ini yang dibangun di Jakarta. Tentunya pemerintah daerah akan mengaplikasikan di daerah masing-masing dengan pola yang sama.

"Sehingga tidak perlu lagi ada kepanikan di masyarakat di dalam penanganan kasus ini. Kalau cara berifikir ini bisa kita tata kembali tentu dengan kerja sama, sinergi saling mengingatkan InsyaAllah akan tertangani dengan baik," tandas dia.

Selasa, 24 Maret 2020

Gara Gara Corona Untuk Pelajar, Ujian Nasional 2020 Dihapus, Kelulusan Ditentukan Raport

Pelajar SMP, SMA, SMK dan yang sederajat mestinya masih akan mengikuti ujian nasional 2020.Namun Ujian Nasional (UN) tahun ini ditiadakan.Alasannya karena situasi negara sedang genting, menghadapai wabah virus corona yang terus meluas. Mendiknas dan DPR sepakat UN tahun ini ditiadakan.

UN tahun ini ditiadakan

Ujian Nasional (UN) tingkat SD hingga SMA diusulkan untuk dibatalkan menyusul wabah virus corona yang merebak di Indonesia.Jika UN dibatalkan maka kelulusan siswa ditentukan dari nilai raport.

Saat ini, Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah mengkaji opsi pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sebagai penganti UN.

Usulan tersebut telah disepakati anggota DPR Komisi X dan Mendikbud Nadiem Makarim saat melakukan rapat online.

Penyebaran wabah corona (Covid-19) di ujung masa akhir tahun pelajaran menimbulkan simalakama bagi pemerintah.

Saat ini tengah dikaji berbagai opsi ujian bagi siswa tingkat dasar dan menengah sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kelulusan siswa, termasuk menggunakan nilai raport.

“Dari rapat konsultasi via daring (online) antara anggota Komisi X dan Mendikbud Nadiem Makarim maka disiapkan berbagai opsi untuk menentukan metode kelulusan siswa salah satunya dengan nilai kumulatif dalam raport,” ujar Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin malam (23/3/2020).

Dia menjelaskan, rapat konsultasi menyepakati yang digelar Senin malam menyebutkan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dari tingkat SMA, SMP, hingga SD ditiadakan. Kesepakatan ini didasarkan atas penyebaran Covid-19 yang kian masif.Padahal jadwal UN SMA harus dilaksanakan pekan depan.

Pun begitu dengan UN SMP serta SD yang harus dijadwalkan paling lambat akhir April mendatang.
“Penyebaran wabah Covid-19 diprediksi akan terus berlangsung hingga April, jadi tidak mungkin kita memaksakan siswa untuk berkumpul melaksanakan UN di bawah ancaman wabah Covid-19 sehingga kami sepakat UN ditiadakan,” ujarnya.

Huda mengatakan saat ini Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah mengkaji opsi pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sebagai penganti UN.

Kendati demikian opsi tersebut hanya akan diambil jika pihak sekolah mampu menyelenggarakan USBN dalam jaringan (daring).

“Kami sepakat bahwa opsi USBN ini hanya bisa dilakukan jika dilakukan secara daring, karena pada prinsipnya kami tidak ingin ada pengumpulan siswa secara fisik di Gedung-gedung sekolah,” katanya.

Politikus PKB ini menegaskan jika USBN via daring tidak bisa dilakukan maka muncul opsi terakhir, yakni metode kelulusan akan dilakukan dengan menimbang nilai kumalatif siswa selama belajar di sekolah.

Untuk tingkat SMA dan SMP maka kelulusan siswa akan ditentukan melalui nilai kumalatif mereka selama tiga tahun belajar.

Pun juga untuk siswa SD, kelulusan akan ditentukan dari nilai kumulatif selama enam tahun mereka belajar.

“Jadi nanti pihak sekolah akan menimbang nilai kumulatif yang tercermin dari nilai raport dalam menentukan kelulusan seorang siswa, karena semua kegiatan kulikuler atau ekstra kulikuler siswa terdokumentasi dari nilai raport,” ujarnya.

Masa libur diperpanjang pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung memperpanjang masa libur sekolah akibat corona untuk siswa-siswi PAUD, SD, dan SMP se-Kota Bandar Lampung.

"Saya ingin bagaimana anak-anak sekolah sehat semua, untuk itu libur akan diperpanjang hingga 12 April," ujarnya kepada awak media di Ruang Rapat Wali Kota, Senin (23/3/2020).

Menurutnya, keputusan tersebut berpedoman kepada keputusan Pemerintah Pusat.

"Karena keputusan pusat harus diikuti. Ini demi keselamatan rakyat agar aman dan tentram," ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, Pemkot Bamdar Lampung telah meliburkan sekolah sejak 16 sampai 28 Maret mendatang.

Ia menekankan libur yang diberikan tidak untuk elemen pendidikan yang sesuai jadwal melaksanakan ujian.

"Semua libur, kecuali yang sedang ujian. Ujian kan sistemnya dari pusat," ucapnya.

Selain itu, Herman HN juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak percaya isu-isu yang tidak didasari oleh surat resmi dari Pemerintah Kota

"Libur sekolah ini akan saya keluarkan surat resmi. Jadi untuk masyarakat yang mendapat isu namun tidak dilengkapi dengan adanya surat legal dari Walikota harap jangan dipercaya," kata Herman.

Warga Bandar Lampung positif virus corona

Sebelumnya, satu warga Bandar Lampung yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) dinyatakan positif Covid-19.

Pasien pria berusia 62 tahun itu dipastikan terkena virus corona berdasarkan pengumuman pemerintah pusat.

Pengumuman disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (18/3/2020) sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung Reihana membenarkan pengumuman itu.

"Iya betul (pengumuman satu pasien warga Bandar Lampung positif corona)," kata Reihana melalui pesan WhatsApp, Rabu sore.

Menindaklanjuti pengumuman resmi pemerintah pusat, Diskes Lampung menggelar konferensi pers di aula kantor Badan Pelatihan Kesehatan Lampung, Rabu petang.

Dalam konferensi pers, Reihana menjelaskan pasien RSUDAM tersebut diketahui positif corona dari hasil pemeriksaan laboratorium di Jakarta oleh Kementerian Kesehatan.

Hasil lab keluar lebih kurang empat hari setelah sampel air liur pasien dikirim pada Sabtu (14/3/2020) akhir pekan lalu.

"Pasien usia 62 tahun yang dirawat di RSUDAM itu positif (corona). Sudah dilaporkan kepada Bapak Gubernur Lampung Arinal Djunaidi," ujarnya.

Dengan dipastikannya satu warga Bandar Lampung positif terkena corona, Reihana mengimbau masyarakat Lampung tidak panik.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Lampung ini meminta masyarakat terus menjaga pola hidup sehat.

"Kami berharap pasien positif Covid-19 ini sembuh. Masyarakat jangan panik. Jika sesak napas, silakan hubungi pihak kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, hindari keramaian, tutup mulut jika batuk dan bersin. Jaga pola hidup bersih dan sehat," pesannya.

Riwayat pasien positif virus corona

Pasien warga Bandar Lampung positif corona ini pertama kali dilaporkan oleh anaknya yang berusia 32 tahun ke Puskesmas Simpur, Sabtu (14/3/2020) lalu.

Sang anak khawatir karena mengetahui ayahnya terlibat dalam pertemuan jemaat Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), 25-28 Februari 2020.

Pertemuan itu berlangsung di Hotel di Bogor, Jawa Barat.

Dari pertemuan tersebut, diketahui ada satu peserta dari Jawa Tengah meninggal dunia dan dipastikan positif corona.

Kemudian ada satu peserta lainnya yang dirawat di rumah sakit di Jakarta.

"Mereka ini bersamaan pada saat itu, di Bogor, pertemuan jemaat," kata Reihana dalam konferensi pers, Rabu petang.

Peserta pertemuan jemaat GPIB asal Bandar Lampung itu pulang ke kediamannya pada 29 Februari.

Reihana mengungkapkan, kondisi badan pria berusia 62 tahun itu mulai panas pada 3 Maret.

"Suhu badannya 37 derajat celsius. Lalu batuk, makan dan minum susah menelan. Pasien ini kemudian periksa ke dokter swasta. Periksa ke laboratorium juga, di RS Advent. Tes widal untuk tifoid (tifus)," beber Reihana.

Selanjutnya, Jumat (13/3/2020) pekan lalu, yang bersangkutan menjalani pemeriksaan di puskesmas.
Sehari berselang, anaknya datang lagi dan melapor ke puskesmas.

"Oleh petugas diberi masker, lalu pulang. Istri (pria tersebut) panik, meminta pergi ke RSUDAM menggunakan layanan BPJS," ujar Reihana.

Pria tersebut akhirnya masuk dan mulai dirawat di RSUDAM pada Sabtu siang.Ia lalu dinyatakan kategori pasien dalam pengawasan (PDP).

Sampel swab tenggorokannya dikirim ke Kemenkes, diteliti, hingga dinyatakan positif corona, Rabu (18/3/2020).

Hingga diumumkan positif corona, kondisi pasien di RSUDAM ini membaik.Ia tetap dalam pemantauan pihak RSUDAM. Lacak interaksi pasien diskes Lampung menyatakan melacak interaksi dan hubungan pasien positif corona sebelum dinyatakan positif.

Diskes akan mendata setiap orang yang sempat berhubungan dengan si pasien.

"Akan kami tracing (lacak), bertemu dengan siapa saja," ujar Reihana.

Pihaknya mengimbau warga melakukan self isolation (isolasi diri di rumah selama 14 hari) untuk memutus mata rantai virus corona.

"Semua dari kita bisa jadi ODP (orang dalam pemantauan). Maka, harus kita putus mata rantai virus ini dengan self isolation," katanya.

Terkait pencegahan, menurut Reihana, tak hanya dengan menggunakan masker.Warga juga harus rajin mencuci tangan menggunakan sabun.Reihana menambahkan Lampung sampai saat ini tidak melakukan lockdown.

"Penekanannya, harus menjaga stamina tubuh. Masyarakat diharapkan melapor kepada tempat pelayanan kesehatan setempat kalau tidak enak badan," ujarnya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketua Komisi X: Kami Sepakat UN Ditiadakan, Kelulusan Siswa Bisa Ditentukan Nilai Raport"

Acara Pernikahan Berakhir Petaka, 37 Tamu Undangan Positif Corona, Ternyata Dari Sini Tertular

Virus corona terus menyebar luaskan wilayah penularannya di sejumlah negara di dunia.Hingga saat ini, terdapat 276.503 kasus dengan total kematian sebanyak 11.417 di seluruh dunia.Sejak kasus pertama di Wuhan, China, pada Desember 2019 lalu, virus Corona telah menginfeksi 152 negara.

virus corona di indonesia

Virus Corona atau Covid-19 menyebar dengan cepat, terlebih lagi di kerumunan banyak orang potensi penularan virus ini menjadi semakin tinggi.Salah satunya di acara pesta pernikahan. Hal itulah yang dialami oleh pasangan pengantin di Australia.

Pasangan pengantin bernama Scott Maggs dan Emma Mecalf tak menyangka pesta pernikahan mereka yang digelar 6 Maret 2020 lalu berubah jadi malapetaka.

Dikutip dari laman Sydney Morning Herald, sampai saat ini ada 37 tamu positif Covid-19. Sementara itu, Scott Maggs dan Emma Metcalf sendiri baru menjalani tes virus Corona pada Senin (16/3/2020), dan masih belum mengetahui hasilnya.

Pasangan pengantin itu rupanya mengetahui kabar buruk tersebut saat mereka bulan madu di Maldives.Mereka mendapatkan kabar tak menyenangkan dari dua orang tamu di pernikahan mereka.Dua orang tamu tersebut mengaku positif terinfeksi Covid-19.

"Ini gila. Kami berciuman dan memeluk orang sepanjang malam. Kami tidak bisa menjelaskannya, apalagi percaya," kata Maggs.

"Kami mulai merencanakan pernikahan berbulan-bulan yang lalu. Tidak ada histeria atau larangan pada tanggal 6 Maret, itu tidak ada di radar," imbuhnya. Mags pun langsung mengonfirmasikan pada 120 tamu undangan pernikahannya.

Semua tamu undangan menjalani tes virus Corona dan didapati sebanyak 37 positif terinfeksi Covid-19.Dari 37 orang yang terkena virus Corona itu, dua di antaranya adalah senator di New South Wales, Andrew Bragg, dan putri dari pakar advertising John Singleton, Sally Hawach.

Menyedihkannya, Sally saat ini tengah hamil 30 minggu dan memiliki dua anak yang masih kecil.Sally dan suaminya saat ini menjalani karantina di rumah mereka di Sdyney.

Tidak lama setelah menghadiri pernikahan Maggs dan Metcalf, Sally mengaku merasa sakit. Mengetahui keadaan tersebut, Maggs dan Metcalf pun merasa sangat sedih. Pasangan pengantin baru ini tak menyangka kejadian buruk menimpa para tamu undangan pernikahannya.

Kesedihan mereka semakin bertambah karena kini keduanya dituduh orang-orang sebagai pihak yang tak bertanggung jawab karena tetap menggelar pernikahan saat virus corona mewabah.

"Kami harus berurusan dengan orang-orang yang menuduh kami tidak bertanggung jawab, menyalahkan kami atas virus itu," kata Metcalf.